Yogyakarta saat ini sangat terkenal dengan desa wisata yang ditawarkannya. Banyak sekali desa wisata yang terdapat di Yogyakarta dan sangat menarik untuk dikunjungi bagi pengunjung yang merindukan suasana pedesaan. Salah satu desa wisata yang harus dikunjungi saat pergi ke Yogyakarta adalah desa wisata Tembi.

Lokasi Desa Wisata Tembi

Desa wisata tersebut berada di desa Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Jaraknya sekitar 9 kilometer dari arah kota Yogyakarta.

Uniknya dari desa wisata Tembi yaitu terdapat rumah budaya Tembi berarsitektur Jawa yang dijadikan sebagai home stay atau tempat menginap wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Keunikan lainnya yang terdapat di desa wisata Tembi ialah penamaannya sendiri menurut cerita yang beredar di masyarakat. Pada dahulu kala desa wisata ini dinamakan Tembi karena diambil dari nama seorang Dewi yang bernama Dewi Tembi.

Lain dari pada itu, awal mula keberadaan desa wisata Tembi ini ialah ada seorang warga asing dari Australia tahun 1994 bernama Wrwick Purlen Larsen yang begitu peduli dan terpesona dengan suasana alam pedesaan di wilayah Tembi. Lokasi ini bisa anda akses menggunakan layanan Paket Wisata Jogja dari Naraharya Trans Wisata.

Kemudian setelah itu Menteri Kebudayaan Indonesia yang pada saat itu menjabat juga melihat potensi yang ada di desa Tembi ini untuk dijadikan sentra kerajinan dan cocok digunakan sebagai home stay. Oleh karena itu, desa Tembi kemudian diresmikan menjadi salah satu desa wisata di Yogyakarta.

Promo : Paket Wisata Jogja 1 Hari

Desa wisata Tembi memiliki lingkungan yang bersih dan asri. Pemandangan yang menakjubkan dan warga atau penduduknya yang begitu ramah membuat siapa saja yang datang ke desa ini akan merasa betah dan nyaman. Banyak sekali galeri batik yang terdapat di desa ini serta sanggar lukis anak-anak yang bekerja sama dengan Kedutaan Meksiko.

Ada lagi kuliner yang menyajikan menu internasional di Omah Jogja yang bekerja sama dengan Konsulat Meksiko. Akan tetapi, bagi pengunjung yang tidak menyukai menu makanan internasional tersebut dapat pergi ke angkringan khas Jogja untuk menikmati menu sederhana khas Jawa.

Desa wisata Tembi ini juga terbilang bersih karena ada petugas khusus kebersihan yang tugasnya adalah menjaga sesuatu hal yang berkaitan denga kebersihan.

Desa wisata Tembi juga mendapat julukan sebagai Rumah Budaya karena banyak sekali aktvitas yang berkaitan dengan seni yng dilakukan di desa ini. Kegiatan yang dimaksud tersebut adalah kegiatan seperti melukis, membatik, dan membuat keramik untuk dijadikan seni kerajinan khas desa Tembi ini. Selain itu, terdapat pembuatan kuliner khas desa Tembi seperti keripik Bonggol, tempe dele, dan sagon.

Bagi pengunjung yang akan menginap di sini bisa mendiami home stay yang disediakan di desa ini dengan kisaran harga Rp300.000,00 sampai dengan Rp400.000,00 untuk permalamnya. Fasilitas yang ada di setiap home stay pun sudah terbilang lengkap dengan adanya ruang tamu, kamar mandi, TV LED, AC, dan menu sarapan. Beberapa paket wisata jogja desa Tembi yang ditawarkan di antaranya ada membatik kain dengan harga Rp30.000,00/orang, membatik topeng kayu dengan harga Rp50.000,00/orang, dan membuat keramik atau tembikar dengan harga Rp20.000,00/orang.

Terdapat rumah budaya Tembi denga luas lahan 3.000 meter yang memiliki pendopo, galeri, dan perpustakaan. Pengunjung juga bisa melihat pembuatan aneka kerajinan khas Yogyakarta, seperti keranjang, anyaman, dan lainnya. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat peralatan tradisional seperti keris dan aneka senjata tradisional. Ada juga foto siklus hidup masyarakat Jawa, seperti Manten, Mitoni, Tedhak Siten, dan lainnya. Oleh karena itu, jangan sampai lupa untuk datang ke desa wisata Tembi ini.

Pengunjung yang akan berwisata ke Yogyakarta dan ingin menikmati suasana lain yang ditawarkan oleh kota ini, bisa datang ke Desa Wisata Tanjung yang terletak di Kabupaten Sleman, provinsi DIY. Tempat ini menawarkan sesuatu yang baru dari tempat wisata lainnya. Desa wisata Tanjung ini sering disebut Dewi Tanjung ataupun Dewita yang merupakan akronim dari Desa Wisata Tanjung. Desa Tanjung adalah sebuah desa yang memiliki sebuah monumen budaya berupa Joglo Tanjung. Bangunan Joglo Tanjung adalah bangunan yang dulunya milik Lurah setempat, kemudian dijadikan sebagai tempat pertemuan atau acara-acara di situ.

 Lokasi Desa Tanjung berada di jalan Palagan Tentara Pelajar kilometer 11, tepatnya di Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Tempatnya tidak cukup jauh dari Monumen Yogya Kembali, yaitu ka arah utara dengan jarak sekitar 5 kilometer atau 35 menit dari kota Yogyakarta. Desa Tanjung ini terbagi menjadi tiga pedukuhan, yaitu Tanjung, Panasan, dan Bantarjo. Desa wisata ini diresmikan tanggal 1 Juli 2001, kemudian banyak pengunjung yang datang ke desa ini, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Desa ini akan ramai kunjungan biasanya saat masa liburan sekolah tiba.

Warga setempat desa Tanjung ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan masih hidup dengan cara tradisional, sehingga menambah kesan alami saat berkunjung ke desa ini. Desa Tanjung ini memiliki potensi sebagai tempat wisata yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Banyak kesenian tradisional yang masih dilestarikan di desa ini, salah satunya atraksi yang paling baru ialah Ciciblung, yaitu permainan nada yang dihasilkan oleh air sungan dengan cara menepuk aliran air sungai. Selain itu, pengunjung juga dapat mengamati bagaimana cara membatik dan mengamati bagaimana warga sekitar dalam melakukan aktivitas bertani yang dijadi sebagai mata pencaharian.

Pengunjung yang akan menikmati suasana di desa wisata ini akan dipungut biatya Rp50.000,00/orang dan sudah termaksud makan 3 kali. Bagi pengunjung yang akan menggunakan joglo sebagai homestay, dapat dikenakan biaya antara Rp20.000,00 – Rp40.000,00 tergantung negosiasi dengan penduduk setempat. Biasanya rumah joglo di desa Tanjung ini memiliki bangunan yang luas dan halaman yang luas, sedangkan pendoponya dapat menampung 100 sampai 200 orang. Selain itu, akses menuju lokasinya pun cukup mudah dan berada tidak jauh dengan pusat kota. Penduduk setempat begitu ramah dengan pengunjung yang datang dan masih menjunjung nilai-nilai luhur, sehingga budaya gotong royong pun masih terasa di desa wisata ini.

Desa wisata ini bukan hanya menawarkan pemandangan yang indah sebagai tempat wisata ataupun rekreasi, tetapi pengunjung akan mendapat banyak pengalaman dan pengetahuan baru dari sini. Tempat ini dapat dijadikan referensi untuk berwisata sekaligus belajar. Berwisata di desa Tanjung sangat dekat dengan alam, karena pengunjung langsung terjun ke dalam situasi nyata. Selain itu, dapat digunakan juga sebagai referensi melepas penat dengan keluarga. Di sini pengunjung akan merasakan bagaimana cara mengolah tanah, menanam, dan banyak lagi pengalaman yang tentunya tidak di dapatkan di kehidupan perkotaan.

Kesenian tradisional yang masih dilestarikan di desa Tanjung di antaranya kesenia pekbung, jathilan, tari klasik, dan karawitan. Biasanya penduduk setempat akan mengajak wisatawan yang berkunjung untuk bermain kesenian bersama. Selain potensi kesenian tradisional yang masih dilestarikan, adat istiadat di desa Tanjung juga masih sangat kental dan tidak jarang untuk dilakukan, seperti kenduri, wiwitan, tedun, dan lainnya. Pengunjung juga bisa menikmati udara segar di area persawahan yang cukup luas. Bagi pengunjung yang memiliki ketertarikan dengan kerajinan batik, di desa Tanjung juga terdapat pengrajin batik dan pengunjung bisa mengamati atau bahkan mencoba bagaimana cara membatik. Jadi, jangan ragu untuk datang ke desa wisata Tanjung.

Kota Yogyakarta terkenal akan budayanya yang masih kental dan masih memegang teguh nilai-nilai luhur. Pengunjung yang akan berwisata ke Yogyakarta dan ingin menikmati suasana lain yang ditawarkan oleh kota ini, bisa datang ke Desa Wisata Candran yang terletak di Kabupaten Bantul provinsi DIY. Tempat ini menawarkan sesuatu yang baru dari tempat wisata lainnya. Sebagian besar penduduk setempat bermata pencaharian dengan bertani dan berternak menggunakan cara tradisional yang jauh dari kesan modern. Lokasi desa Candran ini berada di Dusun Mandingan, Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul Yogyakarta. Pengunjung yang memasuki area desa Candran ini akan disambut oleh penduduk setempat, sehingga budaya Jawa yang kental sangat terasa.

Awal terbentuknya desa wisata Candran ini karena kurangnya kesejahteraan penduduknya yang mayoritas bermata pencaharian dengan bertani. Sang pencetus desa ini adalah mantan lurah Kebonagung yang bernama Kristyo Bintoro. Desa ini semakin berkembang menjadi desa wisata sejak tahun 2003. Seperti yang telah disebutkan, sebagian besar penduduk setempat adalah petani tradisional. Oleh sebab itu, di desa Candran ini terdapat sebuah museum yang dikenal dengan nama Museum Tani Jawa. Di dalam museum tersebut terdapat peralatan lengkap untuk bertani yang cukup lengkap, seperti cangkul, gathol, sabit, dan peralatan tani lainnya. Selain itu, peralatan memasak yang masih tradisional seperti talenan, cething, kendhil, munthu, dan lainnya dapat ditemukan di museum ini serta usinya yang sudah mencapai sekitar 50 tahun.

Ada beberapa paket wisata di desa Candran ini, di antaranya paket utama yang ditawarkan adalah kegiatan yang memiliki hubungan dengan aktivitas bertani karena menggambarkan tata kehidupan masyarakat yang agraris di desa Candran ini, seperti membajak sawah dengan kerbau dan menanam padi. Paket lainnya yang mendukung, ialah membatik, membuat berbagai makanan tradisional seperti apem dan cemplon yaitu makanan khas Bantul. Terdapat juga paket bersepeda yang digunakan untuk keliling kampung sambil mengunjungi pusat-pusat pembuatan kerajinan setempat. Ada paket mengarungi kali Opak di Bendung tegal menggunakan perahu naga. Bagi pengunjung yang hobi memancing juga bisa memancing di kali Opak tersebut.

 Di desa Candran juga menampilkan seni tradisional yang dapat disaksikan oleh pengunjung, seperti Gejog Lesung, Jathilan, Karawitan, Tari Topeng Tani, dan Nini Thowong. Dari segi budaya atau kebiasaan, di desa ini masih melestarikan budaya kenduri, nyadran, dan wiwitan.

Akses jalan menuju lokasi desa Candran ini sangat mudah. Jaraknya sekitar 16 kilometer dari kota Yogyakarta dengan jarak tempuh kurang lebih 45 menit. Bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan umum, dari terminal Giwangan bisa naik bus jurusan Jogja – Imogiri – Panggang kemudian turun di desa Kebonagung dan berjalan kaki sekitar 500 meter dari pinggir jalan menuju desa wisata Candran ini. Pengunjung yang akan menginap dapat menyewa homestay yang biasanya dapat ditempati hingga enam orang dengan biaya sewa sekitar Rp100.000,00/orang. Biaya sewa penginapan tersebut sudah satu paket dengan makan tiga kali sehari. Area parkir pun disediakan dengan kapasitas 50 mobil, 200 motor, dan 4 buah bus.

Dahulu desa wisata Candran ini merupakan salah satu tempat pembuatan batu bata merah untuk pembangunan makam Sultan Agung di Imogiri. Hal menarik yang dapat dilakukan di desa ini adalah bertani secara tradisional, mengunjungi makam-makam raja-raja Mataram, dan bersepeda mengelilingi kampung serta mampir ke pusat kuliner khas setempat. Jadi, jangan lewatkan desa wisata Candran saat Anda berwisata di Yogyakarta.

Desa Wisata Kasongan: Sentra Industri Keramik dan Gerabah Terbesar di Yogyakarta – Bagi pencinta kerajinan keramik dan gerabah, tidak ada salahnya untuk berkunjung ke pusat sentra kerajinan keramik dan gerabah yang ada di Yogyakarta. Desa wisata Kasongan, merupakan sentra industri kerajinan keramik dan gerabah terbesar di Yogyakarta. Dahulu, desa Kasongan hanya menjadi tempat produksi berbagai macam kerajinan gerabah dan keramik, tetapi lama-kelamaan hingga saat ini desa Kasongan telah menjadi tempat pemasaran hasil kerajinan berbagai bentuk dari gerabah dan keramik, seperti guci, vas bunga, souvenir, figura, dan sebagainya. Masyarakat yang menguhuni desa Kasongan pun sebagian besar bermata pencaharian sebagai pengrajin gerabah maupun keramik.

Pada awalnya, kerajinan gerabah di desa ini belum berkembang pesat seperti saat ini. Pada tahun 1971, usaha kerajinan gerabah di sini mulai berkembang sejak seorang seniman besar Yogyakarta, Sapto Hudoyo, membina masyarakat Kasongan untuk mengembangkan kerajinan dari gerabah menjadi benda yang bernilai seni, berdaya guna, dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Setelah itu, muncul usaha dengan nama Sahid Keramik yang mengembangkan keramik Kasongan dalam skala besar tahun 1980an.

Hasil kerajinan diproduksi di desa Kasongan ini cukup beragam dari bentuk dan jenisnya. Produksi berbagai macam kerajinan yang dibuat telah sampai ekspor ke mancanegara seperti negara-negara di Amerika dan Eropa. Bahkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura pun tidak ketinggalan untuk melakukan impor barang-barang kerajinan yang berasal dari Kasongan ini. Negara-negara maju di Asia pun, seperti Jepang dan Korea juga turut melakukan impor terhadap berbagai produk hasil kerajinan Kasongan.

Lokasi desa wisata atau pasar Kasongan ini terletak di Dukuh Kajen, Desa Kasongan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Jarak pasar ini adalah 8 KM dari kota Yogyakarta atau 6 KM dari alun-alun utara menuju alun-alun selatan. Untuk akses jalan ke pasar Kasongan ini, pengunjung hanya tinggal menyelusuri jalan Bantul dari pusat kota Yogyakarta, kemudian pengunjung akan sampai pada KM 5,6 di Jalan Bantul. Tidak jauh dari situ, di sebelah barat ada sebuah koridor yang bentuknya seperti gapura berwarna merah yang bertuliskan Desa Wisata Kasongan.

Akomodasi ke arah pasar Kasongan ini juga cukup mudah. Pengunjung dapat menggunakan transportasi roda dua maupun roda empat. Pengunjung yang menggunakan transportasi umum, bisa menaiki bus arah Bantul dan turun di Kasongan. Dari arah kota Yogyakarta jarak yang ditempuh untuk mencapai Kasongan sekitar 30 menit atau setengah jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pasar Kasongan ini biasanya buka mulai pukul 09.00 WIB dan tutup pada pukul 21.00 WIB. Tidak ada tarif yang dikenakan pengunjung saat mengunjungi pasar ini, biasanya pengunjung hanya perlu membayar tiket parkir jika membawa kendaraan pribadi. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan dari kerajinan gerabah atau keramik. Sambil berjalan kaki, pengunjung juga bisa sambil bertanya-tanya dengan pembuat kerajinan di sana  dan melihat proses pembuatannya. Sebab, pengunjung yang datang ke desa Kasongan ini akan disambut ramah dengan para penjual kerajinan.

Sebagai sentra industri keramik, Kasongan telah menarik perhatian para pengunjung, wisatawan, khususnya para kolektor atau seni dan pecinta kerajinan keramik. Pengunjung akan disuguhi berbagai produk unggulan, seperti air mancur dan keramik guci. Keunikan pada setiap produk yang ditawarkan di sini ialah bahan alami yang digunakan dalam proses pembuatannya dan proses pengecatannya sebagai media sentuhan akhir. Kesan klasik dan artistik akan timbul menambah citra rasa dari pilihan warna dan motif yang dipilih pada setiap masing-masing produk. Harga yang ditawarkannya pun cukup relatif, tergantung tingkat kesulitan produksi dan besar kecilnya keramik yang digunakan. Kisaran harga mulai dari Rp5000,00 sampai jutaan rupiah bisa ditawarkan pada setiap kerajinan keramik di sini. Bagi pengunjung yang hanya akan membeli beberapa barang untuk oleh-oleh, souvenir, atau cindera mata untuk diberikan kepada orang-orang terdekat dapat membeli barang-barang yang mudah dibawa dan kecil serta harganya yang terjangkau, seperti asbak, patung mini, tempat lilin, dan semacamnya. Jangan lupa untuk mampir ke tempat ini jika pengunjung datang berwisata ke Yogyakarta.

 

Merdunya Kicauan Burung Kuntul di Desa Wisata Ketingan Sleman – Desa Ketingan merupakan surga bagi ribuan burung burung kuntul yang sekarang ini jumlahnya mencapai 7.000 ekor. Fenomena unik terjadi pada tahun 1997 setelah setelah Sri Sultan Hamengkubuono X meresmikan gapura dusun, ribuan burung kuntul menyerbu dan membuat sarang di dusun ketingan.

Yang lebih aneh lagi, burung burung ini hanya tinggal di ketingan tidak di dusun lain yang secara fisik memiliki vegetasi yang sama dengan ketingan. Hadirnya ribuan burung kuntul di dusun ini menjadikan suasana dusun menjadi ramai oleh kicauan burung kuntul. Banyak wisatawan yang datang berburu momen indah aktivitas burung kuntul di ketingan. Wisata alam ini menjadi tujuan wisata menarik yang banyak ditawarkan oleh jasa paket wisata yogya.

Awalnya kehadiran burung kuntul ini dianggap sebagai hama yang dapat menurunkan produksi buah melinjo yang pohonnya dibuat sarang oleh burung burung tersebut. Belum lagi kotoran kotoran burung yang ada dijalan dan pekarangan warga yang dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan. Banyak warga yang akhirnya berusaha mengusir burung burung tersebut, bukannya pergi burung kuntul malah semakin berkembang biak dan jumlahnya semakin banyak. Warga akhirnya sadar dan terbiasa berbagi lahan bermukim dengan burung burung tersebut, bahkan warga sampai hafal segala aktivitas burung kuntul, mulai dari mencari makan, membuat sarang baru, kapan musim kawin, musim menetas, dan berimigrasi. Pada bulan september, burung kuntul akan bermigrasi meninggalkan ketingan dan pulang lagi pada pertengahan oktober.

Lokasi Desa Wisata Ketingan

Lokasi wisata alam desa wisata ketingan berada di kecamatan mlati kabupaten sleman yogyakarta. Ada beberapa rute untuk menuju lokasi desa wisata ketingan. Jika wisatawan menggunakan kendaraan pribadi bisa mengambil arah melalui jalan magelang lurus terus sampai terminal jombor kemudian belok kiri sampai diperempatan pasar cebongan, belok kiri sampai dipertigaan pos polisi lalu belok kiri lurus terus sekitar 500 meter menuju ke lokasi desa ketingan. Jika wisatawan menggunakan transportasi umum bisa memilih rute dibawah ini :

  • Dari bandara adi sucipto : naik bus trans jogja turun di terminal jombor – naik angkutan umum jurusan mlati turun di pasar cebongan – naik ojek menuju ke desa wisata ketingan.
  • Dari stasiun lempuyangan : naik bus trans jogja turun di terminal jombor – naik angkutan umum jurusan mlati turun di pasar cebongan – naik ojek menuju ke desa ketingan.
  • Dari stasiun tugu : naik bus trans jogja turun di terminal jombor – naik angkutan umum jurusan mlati turun di pasar cebongan – naik ojek menuju ke desa ketingan.

Tiket Masuk Desa Wisata Ketingan

Tiket masuk ke desa wisata ketingan adalah gratis. Selain  mengamati burung, wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan seni dan budaya Merti bumi seperti pertunjukan wayang, kirab, dan kenduri. Cobalah datang pada bulan september jika wisatawan ingin ikut merayakan wiwitan, yaitu syukuran sebelum masa panen padi. Atau bisa juga datang setelah masa panen padi atau yang biasa disebut dengan tradisi angler. Ketika berkunjung kesana jangan lupa mengenakan topi untuk pelindung kepala agar tidak terkena kotoran burung. Banyak kesenian tradisional yang dipertunjukkan di desa ketingan seperti gejog lesung, jathilan, dan pertunjukan pek bung (alat musik tradisional yang ditabuh dan terbuat dari kelenting).

Banyak penginapan yang ada di desa ketingan mulai dari harga Rp. 50.000 perhari dengan fasilitas makan dan minum. Bagi wisatawan yang datang ke desa ketingan dilarang keras berburu burung kuntul. Wisata di desa ketingan sangat cocok untuk wisata keluarga, wisatawan juga bisa memanfaatkan jasa paket wisata yogya yang menawarkan paket wisata hemat ke desa ketingan.